đ Bagaimana Seharusnya Perusahaan Menanggapi Perubahan Harga Pesaing
Namun, banyak perusahaan yang kurang memperhatikan penetapan harga dengan baik. Kesalahan yang paling umum adalah sebagai berikut (Kotler & Keller) : 1. Pertama adalah penetapan harga yang terlalu berorientasi biaya. 2. Kedua, harga kurang sering direvisi untuk mengambil keuntungan dari perubahan pasar. 3.
Bagaimanaperusahaan menetapkan harga. Menanggapi perubahan harga pesaing. Dalam pasar yang bercirikan homogenitas produk yang tinggi, perusahaan tersebut seharusnya mencari cara untuk meningkatkan produknya yang ditambahkan tersebut. Pemimpin-pemimpin pasar sering menghadapi penurunan harga yang agresif oleh perusahaan-perusahaan kecil
Bagaimanaseharusnya perusahaan menanggapi pemotongan harga pesaing? Tergantung situasinya. Perusahaan harus mempertimbangkan tahap produk dalam siklus hidup, niat pesaing, dan sumber daya, dan kualitas pasar pasar yang dicirikan oleh homogenitas produk yang tinggi, perusahaan dapat mencari cara untuk meningkatkan peningkatann produk.
mendasaryang mempengaruhi perusahaan dalam menentukan harga dari setiap produk yang dihasilkan, seperti : a) Tujuan pemasaran perusahaan, sebagai faktor utama yang menentukan harga adalah tujuan perusahaan itu sendiri misalnya memaksimalkan laba, mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, meraih pangsa pasar yang
. ï»żSebagai pelaku bisnis, ada kalanya Anda akan menemui kesulitan saat menerapkan strategi penetapan harga jual. Tidak perlu khawatir, karena hal ini adalah hal lumrah yang sering terjadi baik di kalangan pengusaha pemula hingga di kalangan pengusaha senior sekali pun. Tidak bisa dipungkiri harga adalah salah satu aspek terpenting pada suatu produk. Harga yang cocok akan menemukan target pasarnya sendiri karena harga adalah pertimbangan utama konsumen dalam membeli suatu produk Maka dari itu, baiknya sebelum berjualan Anda harus benar-benar bisa melakukan strategi penetapan harga jual yang tepat, sesuai dengan kualitas yang ditawarkan. Karena strategi penetapan harga jual akan berpengaruh pada pendapatan. Baca juga 8 Cara Meningkatkan Penjualan dengan Promosi Terbatas Terdapat beberapa cara untuk meningkatkan strategi penentuan harga jual yang bisa memberi keuntungan. Berikut Xendit rangkum beberapa cara dari pertimbangan lain yang berpengaruh terhadap strategi penetapan harga jual. Source Memulai Strategi Penetapan Harga Jual 1. Strategi Penetapan Harga Berdasarkan Biaya Metode ini adalah yang paling standar dan paling banyak digunakan, dimana harga ditentukan berdasarkan total biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi produk yang dijual dan menambahkan sejumlah persentase tertentu sebagai laba. Ada 4 kategori dalam penetapan harga berdasarkan biaya, yakni Cost-Plus Pricing Method â yaitu penetapan harga jual per unit berdasarkan jumlah biaya per unit ditambah jumlah tertentu sebagai laba atau margin harga jual = biaya total + laba Mark-up Pricing â yaitu penetapan harga yang sering digunakan oleh pedagang perantara atau reseller/dropshipper dengan menambahkan harga beli dengan sejumlah laba tertentu harga jual = harga beli + laba/markup Fixed Fee Pricing â yakni penetapan harga berdasarkan jumlah biaya yang dikeluarkan oleh produsen produk tersebut ditambah sejumlah fee yang telah disepakati, jadi laba yang diperoleh tidak mempengaruhi harga jual barang Target Pricing â yakni penetapan harga yang dilakukan berdasarkan tingkat pengembalian investasi ROI sesuai dengan target yang diinginkan. Baca juga Ini 3 Macam Strategi Penetapan Harga yang Perlu Anda Ketahui Dari keempat kategori tersebut, Anda dapat memilih salah satunya. Bahkan, jika memungkinkan, Anda bisa mengkombinasikannya sesuai kebutuhan. Maka, penting bagi Anda untuk mengetahui strategi yang penetapan harga jual berdasarkan biaya. 2. Strategi Penetapan Harga Berdasarkan Kebutuhan/Keinginan Ini strategi yang lebih mengutamakan kondisi ataupun kebutuhan konsumen. Strategi ini memungkinkan adanya perbedaan harga meskipun produknya sama akibat beberapa faktor tertentu seperti letak geografis, waktu, dan sebagainya. Ada 2 macam kategori dalam strategi ini, yakni Price Sensitivity Meter PSM â yakni strategi penetapan harga yang dilakukan dengan tujuan untuk melakukan pendekatan terhadap kebutuhan/permintaan konsumen. Metode ini didasari persepsi konsumen terhadap nilai/value produk yang diterima, apakah sebanding atau mengetahui apakah value suatu produk dapat diterima oleh konsumen, Anda bisa mengukurnya dengan PSM. Diskriminasi Harga â yakni kebijakan untuk menentukan harga jual yang berbeda-beda untuk satu jenis produk yang sama dalam satu segmen pasar. Beberapa faktor yang bisa mempengaruhi diskriminasi harga misalnya wilayah, konsumen, waktu, kualitas, dan bentuk produk. Kedua strategi tersebut, sekali lagi, bergantung dengan apa yang menjadi produk atau jasa di bisnis. Sebab, produk pakaian atau kuliner pasti mengalami pendekatan yang berbeda. Namun, yang jelas keduanya menjadi bagian dari strategi penetapan harga. Baca juga 8 Strategi Efektif untuk Penjualan Online 3. Strategi Penetapan Harga Berdasarkan Persaingan Strategi ini menyoroti harga produk sejenis yang dikeluarkan oleh industri pesaing Anda. Ada dua metode yang bisa digunakan, yakni Perceived Value Fixing â yakni penetapan harga jual berdasarkan harga jual rata-rata produk sejenis. Sealed Bid Pricing â yakni penetapan harga jual berdasarkan penawaran yang diajukan oleh pesaing. Menariknya, kompetitor memang menjadi cara ampuh untuk menaikkan standar produk Anda. Jika harga jual Anda terlihat mahal namun konsumen tetap setia, berarti brand image produk Anda cukup baik. Oleh karena itu, penting bagi Anda mengetahui strategi penetapan harga berdasarkan persaingan. Baca juga 4 Tips Membangun Brand Image dalam Bisnis Buat Toko Online Anda Gratis dengan Xendit Storefront! Setelah mengetahui bagaimana strategi penetapan harga jual, sekarang saatnya anda terjun langsung memasarkan produk! Google mencatat sepanjang tahun 2021 ada perubahan pola konsumsi belanja online dimana sebanyak 21 juta pelanggan beralih membeli kebutuhan melalui toko online. Hal ini tentu bisa menjadi peluang Anda untuk memasarkan produk secara online. Ada banyak sekali pilihan dan cara membuka toko online. Namun di Xendit, kami memfasilitasi pembuatan toko online anda secara gratis! Tidak perlu keahlian coding, design, ataupun lainnya. Cukup mendaftar melalui Xendit Storefront dan Anda bisa langsung memilih tampilan dan fungsi online store anda secara langsung dan yang terpenting gratis! Xendit Storefront adalah tampilan toko online, lengkap dengan informasi produk, harga, jumlah stok. Toko online ini bisa diakses melalui link yang bisa kamu bagikan melalui bio Instagram, status WhatsApp dan lain-lain. Dengan menyebarkan link toko, Anda bisa meraih lebih banyak konsumen dan mendapatkan lebih banyak penjualan. Daftar dan pelajari lebih lanjut mengenai Xendit Storefront melalui halaman ini. Selain tidak perlu repot memikirkan tampilan toko online, Anda juga tidak perlu memikirkan sistem pembayaran yang akan dilalui. Dengan Xendit, terdapat banyak pilihan pembayaran mulai dari e-wallet, virtual account transfer bank, kartu kredit/debit, gerai retail, hingga cicilan tanpa kartu kredit, semua ada dalam layanan payment gateway dari Xendit. Mengelola tagihan dan laporan keuangan pun lebih mudah karena semua sudah diatur oleh sistem kami. Jangan lupa, tagihan juga bisa dibagikan dalam tautan payment link kepada pelanggan dengan xeninvoice. Cari tahu selengkapnya mengenai Xendit storefront dan Xendit sebagai layangan payment gateway terbaik di website kami atau segera daftar dan coba demo gratis Xendit sekarang dengan mengklik gambar di bawah!
Pricing is one of the most important considerations for any business. How much you charge for a product directly affects how much you can sell. Getting the pricing right can result in massive revenue boosts. In this post, weâll look at some strategies how to price your products using proven theories. Youâll learn about pricing science, statistical models, and pricing optimization based on the psychology of pricing products. How to sell online Tips from e-commerce experts for small business owners and aspiring entrepreneurs. Please enter a valid email address What is Pricing Science? To put it into a tweetable sentence, âpricing science is the use of statistical models and competitor analysis to create a pricing strategy.â Pricing science owes its origins to the deregulation of the airline industry in the late 1970s in the US. Airlines offer anon-perishable commodity â seats on a plane. The demand for this commodity changes nearly every day. Post-deregulation, airlines quickly realized that they could make much more money by varying their prices as per demand. They hired statisticians to create complicated models for predicting demand and changing prices accordingly. This is the reason why ticket prices keep changing depending on when you book your flight. In terms of management theory, pricing science forms a part of âyield managementâ. It is an important enough aspect of business that most b-schools even offer courses on it. Large businesses often have dedicated professionals whose sold job is to figure out the best price for the companyâs products. To forecast demand, they use complicated equations that look something like this Terrifying, right? But as youâll learn below, getting the pricing right is crucial for your business. The good part is, you donât have to resort to equations like the one above to get this right. The Pricing Process Itâs a simple fact of economics as prices go up, demand goes down. Your job as a business owner is to find the sweet spot between price and demand. This equation can be represented as a curve, called âDemand Curveâ In this scenario, your revenue would be a function ofTotal Purchases xPrice of Each Product. This can be represented as a rectangle on the graph The âsweet spotâ between price and demand would be the largest rectangle you can draw within this graph Of course, this is an oversimplification, but you probably get the idea â to get the pricing right, you need to find the median between price and demand. Pricing Your Products What Not to Do Most businesses follow a rather simplistic pricing process called the âThree Câsâ of pricing. These are Cost The total cost incurred in manufacturing the product. Price, thus, is cost + profit margin. Customers What customers are willing to pay for the product. Usually found out through customer surveys. Competition What competitors are charging for their products. On paper, this sounds good enough. After all, if you take your cost, customers and competition into account, you should be able to arrive at an agreeable price. In reality, this strategy fails more than it succeeds. Some reasons include Costs can change depending on availability of raw materials. They can also change depending on the scale of production. Cost based pricing discounts the actual value you provide to customers. It also doesnât take into account intangibles like brand value, customer demand, etc. Your competitor might be underpricing its products to gain market share. Customer surveys to determine prices are sketchy at best. What a customer is willing to pay theoretically on paper, vs. what they pay with actual money can be very different. And so on. The tried and tested model seldom works. This is why you need to adopt a pricing strategy that takes customer psychology, statistical models, and demographics into account. How to Choose the Right Product Pricing Strategy Awell-rounded pricing strategy would focus on several factors. Some of these are 1. Adopt Demographic Based Pricing A cost or competitor based pricing model fails because it does not take customer demographics, product value or brand value into account. To combat this, adopt ademographic-based pricing strategy, pricing your products for your target users. For example, if you were selling jeans to rich celebrities, you can charge hundreds of dollars per pair of jeans. Instead, if your target market was 20-something college kids, you would have to bring down the price to under $50 to reach a respectable sales volume. To make this possible, you need the following demographic data for your target market Average income Higher income means higher price tolerance. Gender âMen buy, women shopâ Location Upscale location equals higher disposable income not very useful fore-commerce. Education Education has a positive correlation with income. More educated buyers, thus, can be charged more. You can quantify demographic factors by taking into account their impact on sales say, if average income is over $100,000, income gets a factor of 2, if less than $100k but over $50k, it gets a multiplying factor of 1, etc.. With this you can use a custom formula to calculate the price. Obviously, this formula should be based on statistical analysis, but something as basic as this can work Price = Cost of production * demographic factors + profit margin â customer acquisition cost. 2. Adopt Dynamic Pricing In 1969, Frank Bass, a professor at the Graduate School of Purdue University, developed a model for quantifying the adoption of a new product. This model, called theBass Diffusion Model, gave a simple equation for how people come to use a product in a marketplace. Without going all mathematical on you, this model essentially divides consumers into two groups Innovators These are the early adopters who try out new product and tell others about it. Imitators These are people who start using a new product after it has already gained some traction, often after recommendations from innovators. The number of innovators and imitators peaks after some time. Graphically, this can be represented as follows You can apply this model to most successful products â physical or digital. For example, Facebookâs innovators were college students who first signed up for the service. Later, imitators jumped aboard when Facebook opened its doors to everyone. The question now isâ how does this model apply to pricing? Even though the Bass Diffusion Model describes the adoption of new products, it is also widely used in pricing. The idea is simple you can maximize revenues from each customer by basing your price on a generalized Bass Model curve. Graphically, we can represent it as follows In other words, you can Price the product low-moderate to attract early adopters. Make sure itâs not too low, else you wonât be able to increase prices later, and will affect value perception among late adopters. Increase prices once adopters have become accustomed to the product. Alternatively, you can increase revenues through cross-sells and upsells. Decrease prices later in the customer life cycle to increase customer retention Thus, your prices are never truly static but keep on changing along with the customerâs journey. This is a powerful concept that removes the pressure to get the price just right. Instead, it forces you to adopt a dynamic product pricing strategy that is dependent on customer behavior. Simple, but useful. 3. Increase price inelasticity Price Elasticity of Demand, or PED measures changes in the demand for a product with changes in its price. If the demand decreases with increases in price, the product iselastic. If the demand remains the same regardless of price changes, the product isinelastic. There are two methods to determine the price elasticity Survey a sample audience from the target market. Ask them how their purchasing habits change with price. Study historical records to understand demand changes against price. You can then calculate the price elasticity with a simple formula PED = % change in demand / % change in price This usually yields a negative score since demand typically goes down with price. For example, if you increase the price by 50%, the demand decreases by 100%. The PED, thus, is PED =-100 / 50 =-2 In rare cases, demand remains the same or actually increases as prices increase. This either happens in a bubble, or for commodities such as oil or luxury goods. How does elasticity affect a companyâs pricing policy Price elasticity essentially gives you an understanding of how customers will react if you increase your price. This is a function of three things Scarcity If a product is perceived to be scarce, it can command higher prices without alet-up in demand. Value If the product delivers a lot of value or is perceived so by consumers, you can increase the price without affecting demand. Brand A brand perceived as a rare, luxurious or premium brand can command higher prices without a slip in demand. In some cases, demand can actually increase with prices. Such products are classified as âVeblenâ goods. Luxury products typically use brand perception, value perception and scarcity real or artificial to sell products at high prices. One of the best examples of this can be seen with diamonds. Diamonds are notably expensive and prized commodities. This high price tag comes from an assumption that diamonds are rare. Since there is very limited amount to go by, businesses are right in charging more for the product. However, study after study has shown that diamonds are not only not rare, but even abundant. Businesses that deal in diamonds, such as De Beers, are able to command top dollar for their products by creating artificial scarcity and aggressive marketing. For instance, gifting engagement rings as a tradition was in steep decline after the First World War. Seeing the sharp fall for its product, De Beers launched an aggressive marketing campaign that emphasized how diamonds are âforeverâ â like the bond of marriage. The campaign was successful, and a practice limited to a select group of people suddenly became the established norm across the country. All this marketing and positioning has turned diamonds into a largely inelastic commodity. Itâs prices have steadily increased At the same time, demand has followed a similar curve The diamond industry managed to do this by Controlling supply and creating an artificial scarcity of an otherwise abundant resource. Improving the brand perception of diamonds by positioning them as âforeverâ and a symbol of love. Improving value perception by emphasizing the toughness of diamonds and their âheirloomâ status a strategy frequently used by watch brands. This aggressive positioning has helped turn diamonds into an inelastic product where consumers have a high tolerance for price changes. How to Position Your Product As a small business owner you can adopt several tactics to position your product for higher prices without affecting demand Focus on the craftsmanship involved in the manufacturing process. Watch brands do this phenomenally well. You can charge exponentially higher prices by becoming a Veblen product. Price higher â people often equate higher prices with better quality. Tell a story about the productâs design, creation and origins. Storytelling has been scientifically proven to improve sales. Retailers such as Woot and the J Peterman catalog do this for individual products. Others such as American Giant weave a story about the brand itself. Get better product design. Research shows that better designed products are perceived to be of a higher value by consumers. Even if the function remains the same, better form can improve your sales. Improve website design. Strong website design improves conversion rates as well as value perception for the product being sold. Product positioning is a whole new topic altogether, but the above should give you some ideas to get started. 4. Follow Psychological Pricing Principles Lastly, you can improve sales and conversion rates for your products by framing the prices based on consumer psychology principles. There are a number of tactics under this category. Four such tactics you can use right away are I. Use âcharmâ pricing Charm pricing involves ending a price in 9 or 7 instead of the nearest round number. It is one of the most widely used pricing strategies. Studies indicate that customers tend to focus on the numbers before the decimal point when they read a price. Thus, even though there is just a $ difference between $10 and $ customers are more likely to view the latter as lower priced than the former. In fact, a study by Gumroad, a payment processor, shows that products that use charm pricing often sell 2x more. II. Increase prices marginally If you must increase the price of a product, make sure that the changes are marginal but frequent. Customers should barely register the change. Jumping from $12 to $15 will trigger resistance. But gradually increasing price from $12 to $13, then $13 to $14 and so on over 12 months wonât invite as much scrutiny. In experimental psychology, this idea is called Just-Noticeable Difference . It is frequently used for product improvements such that improvements are noticeable but not glaring, but can also be used for pricing. III. Split price into smaller units A great way to increase sales is to split the price into smaller installments. For example, instead of asking customers to pay $100, you can ask them for five installments of $20 instead. Even though the actual price remains the same, customers perceive the latter to be smaller since it reduces the âsticker shockâ associated with the price. This strategy is frequently used by subscription products that give discounts for annual plans, but frame the price in monthly, not annual billings. This way, even though the customer is being billed annually, he perceive the price to be lower since it is split into smaller monthly payments. IV. Separate shipping costs from the price When pricing your product, itâs important to keep the shipping and handling costs separate from the main product price. Else, you risk customers thinking that the total cost is actually the product price. For example, if the product price is $30, and shipping costs $10, offering $40 as the total price will make the customer believe that the product itself is priced at $40. Most retailers follow this strategy. For example, Amazon clearly mentions the shipping and handling costs separately. Conclusion Getting the pricing right is one of the harder challenges youâll face in your business. By adopting scientific, data-backed pricing principles, you can extract maximum value from your customer base. Key Takeaways Use product positioning to increase prices without affecting demand. Frame prices using psychological principles to maximize potential revenues Base prices on demographic data. Adopt dynamic pricing that changes along with the customerâs journey. Also read Three Pricing Models You Can Implement in Your Online Store
Nama Mochamad Febi Habibie NIM 43110010140 âMANAJEMEN PEMASARANâ TUGAS X SOAL Bagaimana konsumen mengolah dan mengevaluasi harga ? Bagaimana seharusnya harga produk dan jasa ditetapkan untuk pertama kalinya ? Bagaimana seharusnya harga disesuaikan gunaa memenuhi berbagai lingkungan dan peluang yang berbeda-beda ? Kapan seharusnya suatu perusahaan melakukan perubahan harga ? Bagaimana seharusnya perusahaan menanggapi perubahan harga pesaing ? JAWABAN 1. Konsumen sering secara aktif memproses informasi harga, menginterpretasikan harga dari segi pengetahuan mereka berdasarkan pengalaman membeli sebelumnya. Memahami bagaimana konsumen sampai pada pemahaman mereka tentang harga merupakan prioritas pemasaran yang penting. Di sini kita mempertimbangkan tiga topik kunci yaitu harga rujukan, kesimpulan harga-mutu, dan tujuan harga. Harga rujukan Riset telah menunjukkan bahwa konsumen memiliki pengetahuan yang cukup baik tentang kisaran harga yang tercakup, agak mengherankan bahwa hanya sedikit yang mengingat harga spesifik dari produk-produk secara akurat. Ketika menguji produk, konsumen sering memanfaatkan harga rujukan. Pemikiran mengenai harga rujukan juga didorong dengan menetapkan harga tinggi yang disarankan pabrik, atau dengan menunjukkan bahwa produk itu diberi harga yang jauh lebih tinggi pada awalnya, atau dengan menunjukkan pada harga tinggi pesaing. Kesimpulan harga mutu Banyak konsumen menggunakan harga sebagai indikator mutu. Penetapan harga berdasarkan citra terutama efektif pada produk-produk yang peka terhadap ego seperti parfum dan mobil yang mahal. Ketika informasi alternatif tentang mutu yang benar tersedia, harga menjadi indikator mutu yang kurang signifikan. Petunjuk harga Persepsi konsumen tentang harga juga dipengaruhi oleh strategi penetapan harga alternatif. Banyak penjual yakin bahwa harga akan berakhir salam satu angka yang ganjil. 2. Dengan memperhatikan v Memilih tujuan penetapan harga. Makin jelas tujuan suatu perusahaan, makin mudah menetapkan harga. Perusahaan dapat mengharapkan salah satu dari lima tujuan utama melalui penetapan harga kelangsungan hidup, laba maksimum sekarang, pangsa pasar maksimum, menguasai pasar secara maksimum, atau kepemimpinan mutu produk. Kelangsungan hidup Perusahaan dapat mengejar kelangsungan hidup sebagai tujuan utamanya jika terjadi kelebihan kapasitas, persaingan yang sengit, atau keinginan konsumen yang berubah-ubah. Kelangsungan hidup adalah tujuan jangka pendek. Laba maksimum sekarang Perusahaan tersebut memperkirakan permintaan dan biaya yang terkait dengan harga alternatif dan memilih harga yang menghasilkan laba sekarang, arus kas, atau tingkat pengembalian investasi yang maksimum. Pangsa pasar maksimum Perusahaan menetapkan harga yang paling rendah, dengan berasumsi bahwa pasar tersebut peka terhadap harga Menguasai pasar secara maksimum Perusahaan-perusahaan yang memperkenalkan teknologi baru lebih menyukai penetapan harga yang tinggi untuk menguasai pasar. Kepemimpinan mutu produk Banyak merek berusaha keras untuk menjadi âbarang mewah yang dapat dihasilkanâ â produk atau jasa yang bercirikan tinghkatan yang tinggi soal mutu, selera dan status yang dapat dirasakan, dengan harga yang cukup tinggi yang tidak di luar jangkauan konsumen. v Menentukan permintaan Setiap harga akan menghasilkan tingkat permintaan yang berbeda dan karena itu mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap tujuan pemasaran suatu perusahaan. Dalam kasus biasa, permintaan dan harga berbanding terbalik makin tinggi harganya, makin rendah permintaannya. Dalam kasus barang mewah, kadang-kadang harga naik dan malah penjualan akan makin banyak, bukan makin sedikit. v Memperkirakan biaya Permintaan menentukan batas harga tertinggi yang dapat dikenakan perusahaan untuk produknya Jenis biaya dan tingkat produksi Biaya-biaya perusahaan mempunyai dua bentuk, tetap dan variabel. Biaya tetap fixed cost yang juga disebut overhead adalah biaya-biaya yang tidak akan berbeda karena pengaruh produksi atau penjualan. Produksi yang terakumulasi Semakin berpengalaman dalam memprodukksi, metodenya akan membaik. Karyawan mempelajari cara kerja pintas, arus bahan makin mulus, biaya pembelian turun. Namun, penetapan harga berdasarkan kurva pengalaman mempunyai resiko besar. Penetapan harga yang agresif dapat memberi citra murahan kepada produk tersebut Akunting biaya berdasarkan aktivitas Biaya-biaya produsen akan berbeda-beda untuk masing-masing jaringan, dan labanya juga akan berbeda. Untuk memperkirakan profitabilitas sesungguhnya dalam bertransaksi dengan berbagai pengecer yang berbeda. Penetapan biaya sasaran Biaya berubah sejalan dengan skala produksi dan pengalaman. Pengurangan marjin laba yang diinginkan dari harga menghsilkan biaya sasaran yang harus dicapai. v Menganalisa biaya, harga, dan tawaran pesaing Dalam rentang kemungkinan-kemungkinan harga yang ditentukan permintaan pasar dan biaya-biaya perusahaan, perusahaan harus memperhitungkan biaya, harga dan kemungkinan reaksi harga pesaing. v Memilih metode penetapan harga Dengan adanya tiga C yaitu 1 jadwal permintaan pelanggan customerâs demand schedule, 2 fungsi biaya cost function, dan 3 harga pesaing competitorâs price â perusahaan kini siap memilih harga. Perusahaan-perusahaan memilih metode penetapan harga yang menyertakan satu atau lebih diantara ketiga pertimbangan tersebut. v Memilih harga akhir Metode-metode penetapan harga mempersempit ruang gerak yang harus di gunakan perusahaan untuk memilih harga harus mempertimbangkan faktor-faktor tambahan. 3. Perusahaan-perusahaan biasanya tidak menetapkan hanya satu harga, melainkan struktur penetapan harga yang mencerminkan perbedaan dalam permintaaan dan biaya geografis, tuntutan segmen pasar, waktu pembelian, tingkat pemesanan, frekwensi pengiriman, jaminan, kontrak perbaikan, dan faktor-faktor lainnya. Sebagai akibat dari pemberian diskon, potongan harga, dan dukungan promosi, suatu perusahaan jarang merealisasikan laba yang sama dari setiap unit yang dijualnya. Beberapa strategi penyesuaian harga adalah Penetapan harga geografis Penetapan harga geografis melibatkan perusahaan tersebut memutuskan bagaimana cara menetapkan harga produknya untuk pelanggan yang berbeda di lokasi dan negara yang berbeda. Barter Pertukaran barang secara langsung, tanpa uang dn tanpa keterlibatan pihak ketiga. Kesempatan kompensasi Penjual menerima sekian persen pembayaran dalam bentuk tunai, sisanya dalam bentuk produk Persetujuan beli kembali Penjual menjual pabrik, peralatan, atau teknologi kepada negara lain dan setuju menerima produk yang dihasilkan dengan peralatan yang dipasok tersebut. Imbal beli Penjual menerima pembayaran penuh dalam bentuk tunai, tetapi setuju menggunakan sebagian besar uang tersebut di negara tadi dalam kurun waktu yang ditetapkan. Diskon dan potongan harga Kebanyakan perusahaan akan menyesuaikan daftar harganya dan memberikan diskon dan potongan harga discounts and allowances untuk pembayaran yang lebih cepat, pembelian dalam jumlah besar, dan pembelian di luar musim. Manajemen penjualan perlu memantau proporsi pelanggan yang menerima diskon, diskon rata-rata, dan wiraniaga khusus yang terlalu mengandalkan pendiskonan. Manajemen tingkat tinggi harus melaksanakan analisis harga neto yang menghasilkan diskon, tetapi oleh banyak biaya lain. Penetapan harga promosi Perusahaan-perusahaan dapat menggunakan beberapa teknik penetapan harga untuk merangsang pembelian awal Penetapan harga pemimpin-rugi loss-leaader pricing Pasar swalayan dan toko serba ada sering menurunkan harga untuk merek-merek yang sangat terkenal utnuk merangsang lalu-lintas penjualan selanjutnya. Hal ini akan berhasil jika pendapatan dari penjualan selanjutnya dapat menutupi marjin yang lebih rendah dair barang-barang pemimpin-rugi tersebut. Penetapan harga peristiwa khusus special event procing Penjual akan menetapkan harga khusus pada musim-musim tertentu untuk menarik lebih banyak pelanggan. Rabat tunai cash rebate Perusahaan-perusahaan mobil dan perusahaan-perusahaan barang konsumen lainnya menawarkan rabat tunai untuk mendorong pembelian produk-produk produsen dalam suatu kurun waktu yang telah ditentukan. Rabat dapat membantu menghabiskan persediaan tanpa memotong harga biasa yang telah ditetapkan. Pembiayaan bunga rendah low interest financing Alih-alih menurunkan harganya, perusahaan tersebut dapat menawarkan pembiayaan bunga rendah kepada pelanggannya. Produsen mobil telah mengumumkan pembiayaan tanpa bunga guna menarik pelanggan. Masa pembayaran yang lebih lama longer payment terms. Penjual, khususnya bank hipotik dan perusahaan mobil, memperpanjang pinjaman untuk periode yang lebih lama dan dengan demikian menurunkan cicilan bulanan. Konsumen sering tidak begitu mencemaskan biaya yaitu suku bunga pinjaman dan lebih mencemasakan apakah mereka mampu membayar cicilan bulanannya. Garansi dan kontrak perbaikan warranty and service contract. Perusahaan-perusahaan dapat meningkatkan penjualan dengan menambahkan garansi atau kontrak perbaikan gratis atau berbiaya rendah. Diskon psikologis psychological discounting Strategi ini melibatkan penetapan harga yang pura-pura ditinggikan dan kemudian menawarkan produk tersebut dengan penghematan yang lumayan besar. 4. Situasi yang mengharuskan Perusahaan untuk menurunkan atau menaikkan harga. Memulai penurunan harga Beberapa keadaan mungkin menyebabkan perusahaan menurunkan harga. Salah satunya adalah kapasitas pabrik yang berlebihan. Perusahaan tersebut mungkin hanya mengandalkan penetapan harga agresif, tetapi dengan memulai penurunan harga, perusahaan tersebut mungkin akan memicu perang harga. Perusahaan-perusahaan kadang-kadang memulai penurunan harga dalam rangka gerakan mendominasi pasar melalui biaya yang lebih penurunan harga mengandung kemungkinan jebakan Jebakan mutu rendah. Konsumen akan menganggap bahwa mutu tersebut rendah. Jebakan pangsa pasar rapuh. Harga rendah merebut pangsa pasar, tetapi bukan kesetiaan pasar. Pelanggan yang sama akan beralih ke setiap perusahaan yang memberikan harga yang lebih rendah yang datang kemudian. Jebakan dompet tipis. Pesaing dengan harga yang lebih tinggi mungkin akan menurunkan harganya dan mungkin memiliki daya tahan yang lebih lama karena memiliki cadangan tunai yang lebih banyak. Memulai kenaikan harga Keberhasilan menaikkan harga dapat meningkatkan laba yang cukup besar. Keadaan utama yang menyebabkan kenaikan harga adalah inflasi biaya. Faktor lain yang menyebabkan kenaikan harga adalah permintaan yang berlebihan. Harga dapat dinaikkan dengan cara-cara berikut, masing-masing memiliki dampak yang berbeda terhadap pembeli. Penundaan pengumuman harga delayed quotation pricing Perusahaan tersebut tidak menetapkan harga akhir hingga produk itu selesai atau dikirimkan. Klausula eskalator escalator clause. Perusahaan tersebut mengharuskan pelanggan membayar harga hari ini dan semua atau sebagian kenaikan inflasi yang terjadi sebelum pengiriman. Pemisahan bagian unbunding Perusahaan tersebut mempertahankan harganya, tetapi melepas atau menetapkan harga tersendiri untuk satu atau beberapa elemen yang tadinya merupakan bagian dari tawaran sebelumnya, seperti pengiriman dan pemasangan gratis. Perusahaan mobil kadang-kadang menambah rem antilock dan kantong udara samping penumpang sebagai pelengkap tambahan pada kendaraan mereka. Pengurangan diskon Perusahaan tersebut memerintahkan tenaga penjualannya untuk tidak lagi menawarkan diskon tunai dan diskon kuantitas seperti biasanya. 5. Dengan beberapa cara Mempertahankan harga Pemimpin tersebut dapat mempertahankan harga dan margin lanbanya . Mempertahankan harga dan menambah nilai Pemimpin tersebut dapat meningkatkan produk, layanan,, dan komunikasinya. Menurunkan harga Pemimpin tersebut mungkin menurunkan harganya Menaikkan harga dan meningkatkanm mutu Pemimpin tersebut mungkin menaikkan harganya dan memperkenalkan merek-merek baru untuk mengepung merek yang menyerang tersebut. Meluncurkan lini penyerang berharga murah Perusahaan tersebut mungkin akan menambahkan barang berharga murah ke lini tersebut atau menciptakan merek terpisah berharga murah.
bagaimana seharusnya perusahaan menanggapi perubahan harga pesaing